Tak Lagi Menulis Puisi
ada hasrat, aku tak lagi ingin menulis puisi hingga batas waktu tak tercatat.
ada hasrat, aku ingin menjadi puisi
ada hasrat hanya merapalkan teks-teks yang indah dan tak usah tulis puisi
Pinrang SULSEL& Majene SULBAR,, 25 Juli 2009
terima kasih kepada semua kawan yang telah mengapresiasi seluruh karya saya selama puluhan tahun.
aku tak lagi menulis puisi hingga datang dorongan migrasi CINTA dalam Tubuhku
Wajah Di Lengkung Pelangi
Sebuah Catatan Kecil Buat TIZA FITRIZIA
yang kutemukan di sebuah lengkungan pelangi Australia
aku pinjam warna lengkungan pelangi pada wajahmu
warna yang kupersembahkan buat wajah kenanganku
yang tak lagi pernah tamppakkan kening manisnya
aku pinjan tanganmu untuk mengangkat tempurung
yang menjadikanku katak kecil terpenjara yang dungu
aku pinjam seyummu, untuk menukar wajah muramku
dengan senyum di lengkungan pelangimu!
Bermain Hujan
pada percikan air hujan yang menebal menjadi pekat
aku temukan kau duduk dekap dada dengan binar mata memar
dan wajah ranummu diterpa angin basah kian cantik
lalu, tampak daun-daun yang dibasahkan air hujan menari-nari pelan dengan khidmat, menari-nari gemulai bagaikan liukan tubuh dan lirikan mata penari bali,
menari-nari pelan bagaikan tangan bayi lima belas hari, bagaikan panggilan birahi Ken Arok pada Ken Dedes
dan wajahmu yang ranum dan kian cantik itu menembus pekat, menembus dingin
lalu, tampak kau berubah menjadi rajawali yang merentang dan mengibas-ngibaskan sayap, matamu menajam, paruhmu yang memerah saga membisikkan desah setengah birahi
" Dika, temani aku bermain hujan"
Bulukumba Palampang, 27 Maret 2009
Panton Air Mata
Burung malam melengking di langit
anak perawan lelap di kamar rahasia
Bulukumba 22 Maret 2009

